i love my [un]perfect life

@theonlynelly enjoys tumblr-world as well as her wordpress, posterous, and blogspot :) | have you noticed my imperfectness? ;)
Recent Tweets @theonlynelly
Posts I Like

Pertanyaan serupa itu* datang silih berganti setelah kepulanganku dari Korea. Kebanyakan dari teman yang kukenal di kajian..

I ain’t ready.. yet. I don’t know, I’m just unsure with myself.. While I’m waiting for some’thing’ else..

~

Aku kadang heran, bagaimana bisa seseorang yang baru ketemu sekali-dua kali di kajian menawariku ‘itu’.. They didn’t even know my bitter life story..

Sebenarnya ada kejadian yang lebih epic yang baru kuingat, karena dulu berusaha kulupakan..

Kejadiannya sekitar bulan Maret atau April 2013 saat aku masih di Korea. Waktu itu Perpika mengadakan seminar tentang entrepreneurship di Seoul.

Aku pun hadir jauh-jauh dari Busan, jadi panitia lapangan dadakan yang pengen dapat ilmu juga dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Korea yang merangkap pengusaha..

Kubantu panitia lainnya jadi pembantu umum (yang dadakan pula). Aku & beberapa teman kebagian menyiapkan snack & minum untuk diberikan pada pembicara..

Saat itu (seingatku) ada sekitar 5 atau 6 pembicara. Ketika istirahat makan siang, salah seorang pembicara menuju tempatku, saat itu aku sedang ngobrol dengan panitia yang lain.

Beliau menanyakan apa aku bisa bicara sebentar di sana, sambil menunjuk bagian lain dari ruangan seminar itu, kujawab oke. Saat itu masih banyak orang (peserta & panitia) di dalam ruangan, jadi sepertinya sih tidak khalwat. Kami pun lalu bicara sambil berdiri di spot yang dimaksud tak jauh dari tempat dudukku tadi.

Beliau lalu memperkenalkan diri (lagi), kan tadi pas jadi pembicara udah memperkenalkan diri di depan audience. Aku baru tahu nama istrinya ternyata ada dalam satu grup di Muslimah Indonesia-Korea setelah beliau menyebutkan nama istri & anaknya.

Beliau bertanya kapan aku lulus, ya kujawab aja Insya Allaah bulan Juli tahun ini (2013).

Lalu dengan hati-hati beliau masuk ke inti, “Saya dulu dengan istri saya dikenalkan, alhamdulillah cocok & langsung menikah. Saya punya teman dosen di Jakarta, orangnya baik & siap nikah. Orangnya tidak mau pacaran. Kalau mbak Hani mau, saya ingin mengenalkan dia dengan mbak. Harapan saya sih cocok, karena dia orang baik..”

"Bapak, terimakasih atas tawarannya. Tapi mohon maaf saya belum bisa..", meski masih kaget aku berusaha menjawab dengan ‘benar’. ‘Benar’ menurut versiku tentunya..

"Oh gitu ya.. Terus terang karena dulu saya & istri saya menikahnya dikenalkan orang, saya juga ingin bisa ‘menjodohkan’ orang untuk menikah..", katanya memberi ‘latar belakang’, hehe..

Akhirnya untuk mengalihkan pembicaraan, kami membahas topik seputar riset yang sedang dikerjakan. Seingatku sih obrolannya cuma sampai disitu saja..

~

Kejadian di Seoul itu dengan cepat kulupakan & tidak kuceritakan pada siapapun hingga detik ini ku-publish di mini blog, hehe..

Keingetnya pun baru sekarang setelah berlalu 1,5 tahun..

Lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri, jika mereka tahu kisahku, apa masih mau “tembak di tempat” & menerima aku apa adanya?

Karena menikah, adalah puncak dari term “menerima apa adanya”. Menerima aku, kekuranganku, kelebihanku, pemikiranku, masa laluku, keluargaku, dan masa depanku..

Pernah ada yang berkata “Bangunlah masa depanmu denganku, aku ingin membahagiakan kamu”, tapi nampaknya sulit terwujud jika dia tidak mau mengambil resiko. Entahlah..

~

Ngomong-ngomong soal “tembak di tempat”, aku pernah punya pengalaman diacungi pistol oleh penjahat untuk mengancamku agar memberikannya kunci mobil.

Sebuah kisah lama yang bekasnya cukup menyakitkan. Bukan takutnya akan mati di-dor, tapi sakitnya mengetahui hal lain di balik kejadian itu..

Hhh.. Sudah banyak disakiti oleh makhluk berlabel pria, capek juga rasanya..

~another postingan geje yang depannya A ending-nya Z, gak nyambung~

*itu = refers to the previous post

Tanpa dibuka pun, aku selalu tahu pertanyaan kayak gitu endingnya gimana..

Tiga bulan terakhir ini banyak info lowongan untuk bekerja sebagai guru PAUD, TK, dan SD di sekolah-sekolah As-Sunnah.

Menjadi guru TK, adalah cita-citaku ketika kecil dulu. Sehingga datangnya tawaran-tawaran itu cukup menyita sebagian pikiranku.

Jujur, aku pun tergiur. Manusia mana sih yang tak ingin punya penghasilam sendiri sehingga tidak perlu merepotkan orang lain?

Namun di sisi lain, akan ada banyak hal yang harus kukorbankan jika harus bekerja..

Jika bekerja, aku akan kehilangan waktu belajar bersama ‘AbZu’, dua keponakanku. Bukan mereka yang belajar, akulah yang lebih banyak belajar kepada mereka. Akulah yang mengambil ilmu darinya. Tentang bagaimana bayi seusianya beraktifitas dan berkembang, serta banyak hal lain..

Jika bekerja, aku mengingkari apa yang hatiku inginkan. Aku sungguh tak ingin bekerja di luar, bukan karena aku malas, tapi karena aku tahu kapasitas diriku. Aku sebagai wanita paling ‘cocok’ bekerja dari atau di dalam rumah.

Bukan berarti aku ‘mengharamkan’ pekerjaan guru, bukan. Mungkin, jika kelak anak-anakku telah dewasa aku bisa menjadi guru, bukan di masa-masa tumbuh kembang mereka.

Di sisi lain, aku merasa bersalah. Sebagai anak aku termasuk anak yang ‘berani’ karena tidak mengindahkan permintaan orang tua. Beliau berdua mengharapkanku jadi dosen. Bapak masih berharap, sedangkan Ibu sudah menyerah karena tak kuasa merayuku.

Sewaktu aku pulang dari Korea, beliau pernah usul yang intinya begini, “Sekarang daftar dosen dulu, nanti kalo sudah nikah misalnya mau resign gpp.”

But i just can’t.. ada alasan-alasan yang tak bisa kuceritakan. Aku juga tahu, keluar dari pekerjaan itu tak semudah berkata, “Bos mulai besok saya resign ya.”

Pasti ada keribetan-keribetan tersendiri, melihat pengalaman orang-orang di sekitarku yang ketika akan resign saja ada hambatan dari kantornya. Yang sungkan sama bos lah, yang ada kekhawatiran setelah resign gak dapat gaji tetap lah, yang prosedur resign dari kantornya memberatkan lah (harus bayar sekian juta, harus carikan pengganti dulu, harus sampai akhir tahun anggaran perusahaan), dll. Akhirnya malah nggak keluar-keluar.

Jadi?

I’m stick to my decission insya Allah..

Meski keadaan seolah sulit dan semua menentang, aku masih tetap berharap Allah akan memudahkan jalan ini..

Dan kau pernah bercanda andai wajahku diganti..

I lost my bestfriend A, because of X..

I lost my bestfriend B, because of Y..

I lost my bestfriend B once again, because of Z..

I lost my bestfriend once again.. and i hope that’s the last time :(

Yes, I know I’m pathetic. Tapi kata Ustadz, “Menunggu itu termasuk (ikhlas menerima) takdir”..

Pertanyaannya cuma satu, sampai kapan?