i love my [un]perfect life

@theonlynelly enjoys tumblr-world as well as her wordpress, posterous, and blogspot :) | have you noticed my imperfectness? ;)
Recent Tweets @theonlynelly
Posts I Like

Late post! Hadiah dari sahabat-ketemu-gede @littlenio. Jazakillahu khairan wa barakallahu fiyk :’)

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.

Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun.

Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka.

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai.

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta :P

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaan masih banyak lagi.

***

Kutipan di atas adalah tulisan di blog http://azaleav.wordpress.com/2013/08/01/inspirative-housewife-story/. Siapapun tentu bergetar dan merinding membacanya, tak terkecuali saya.

Alhamdulillah atas ijin Allah beberapa bulan lalu sempat “berkenalan” dengan ibu Septi setelah mendaftar di situs Ibu Profesional (http://www.ibuprofesional.com/) dari informasi yang di-share oleh mbak Shinta Rini. Masya Allah, semoga usaha beliau mendapat kemudahan dari Allah dan makin berkembang sehingga semua perempuan Indonesia tergerak untuk kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Apakah wanita seutuhnya itu? Yaitu menjadi ibu yang berkarya dari dalam rumah untuk secara optimal mendidik anaknya demi terciptanya kebaikan agama dan nusa.

Jika anak dididik oleh ibu yang cerdas, anaknya pun akan cerdas. Mau bukti? Sila tonton beberapa cuplikan video pendek mengenai presentasi pak Ilham Akbar Habibie pada gelaran konferensi CISAK 2013 Juli lalu (http://www.youtube.com/user/theonlynelly). Saya dibuat berdecak kagum oleh paparan dan pemikiran beliau. Beliau mampu memaparkan data dan fakta serta menjelaskan aplikasi yang dilakukan di lapangan. Siapakah pendidik utama beliau? Tentu saja sang ibu tercinta, ibu Hasri Ainun, yang rela tidak bekerja sebagai dokter namun memilih untuk fokus mendidik dan merawat buah hati dan suaminya.

Apakah saya sedang men-judge ibu yang lebih memilih berkarir di luar sana? Tidak. Pilihan itu ada di tangan ibu-ibu sekalian, saya hanya menyampaikan pendapat saya, silakan jika berbeda pendapat dengan saya. Yang pasti yang saya tahu, banyak kok kenalan saya wanita karir dengan posisi yang cukup tinggi di perusahaannya & tentu saja bergaji besar yang akhirnya memilih resign dan fokus untuk mengasuh buah hatinya, dan mereka tidak menyesal dengan pilihan mereka.

Apakah saya sedang mengatakan bahwa wanita lulusan S2 itu lebih cerdas dibanding S1, wanita lulusan S3 lebih cerdas dibanding S2, wanita lulusan S1 ebih cerdas dibanding tamatan SMA? Sama sekali tidak. Diri kita adalah bentukan dari apa yang kita pelajari, lihat, dengar, rasakan, dan aplikasikan. Yang pasti saya ingin nantinya ilmu yang saya miliki saya terapkan langsung kepada calon anak-anak saya. Kalo kata orang-orang: masa’ ibunya es-dua tapi anaknya diasuh oleh yang (maaf) tidak tamat es-de? Kasarannya begitu, ekstrim yah memang.

Berkarya dari dalam rumah itu bagi seorang Ibu Rumah Tangga merupakan sesuatu yang wajib dilakukan, karena suami tak selamanya hidup lebih lama dari sang istri; bisa juga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semisal perceraian, dll. Inilah bentuk kemandirian seperti yang telah dicontohkan istri-istri Rasulullah, salah satunya oleh Ibunda Khadijah yang seorang saudagar (tanpa beliau perlu beranjak dari rumahnya).

Buat para Ibu Rumah Tangga, yuk tinggalkan kebiasaan mainstream: di rumah pake daster, di luar dandan abis. Mari jadi IRT anti-mainstream: di dalam rumah super cantik, di luar rumah sepantasnya. Jangan sampai apa yang dilihat para suami di luaran itu lebih “hijau” dibanding istrinya sendiri. Dan selain mengurus rumah tangga, ada baiknya bagi para IRT untuk terus meningkatkan ilmu dan kemampuannya. Agar anak mendapatkan guru pertama yang terbaik dan suami mendapatkan kawan hidup yang bisa diajak bertukar pikiran.

Sekali lagi, saya tidak ingin menyudutkan siapapun, saya hanya ingin orang tahu bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga dan berkarya dari dalam rumah adalah profesi mulia yang tujuan dan hasilnya pun dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ibu saya pun seorang working mom, sayangnya saya tidak dapat meniru jejaknya menjadi seorang super mom yang berperan ganda. Ibu, mohon doa untuk anakmu.. :’)

… Itulah mengapa Allah menciptakan rahim ada dalam tubuh wanita …

Bacaan lebih lanjut:
http://muslim.or.id/muslimah/pahala-melimpah-bagi-muslimah-yang-tinggal-di-rumah.html
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga.html

Ini Aku, Untuk-Mu.. | My Hijab Story | Published on @nulisbuku :’)

She was a model, a piano player, a swimming and running athlete. But after she decided to wear hijab, she found the truly serenity and still in process of learning to be a better muslimah.  Bukan keterkenalan yang membuatnya bahagia & damai.

… And do you know? She is me :’)

***

Kecantikan fisik pada wanita merupakan sebuah harta yang sangat berharga. Karena Allah sendiri yang membuat istilah bahwa aurat seorang wanita adalah perhiasan. Perhiasan itu akan sangat tinggi nilainya jika dijaga keontentikannya dan keindahannya serta tetap dijaga dan dilindungi. Jika wanita menjaga perhiasannya, maka semakin mulia pula kedudukannya. Oleh sebab itu, salah satu bentuk rasa syukur kita adalah dengan cara menjaga dan melindunginya dengan baik. Dalam menjaga perhiasan tidak hanya sekedar menjaganya saja, namun dengan cara yang disukai Allah. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari kedua puluh penulis hasil sayembara penulisan Hijab Book Media Mahasiswa. Berisikan pengalaman pribadi yang sebenarnya tentang berhijab, mulai suka dukanya dan tantangan yang diharapkan bisa menginspirasi dan memotivasi muslimah untuk bisa berhijab.

http://nulisbuku.com/books/view_book/4669/ini-aku-untuk-mu

***

Mengenai pemesanan buku, selengkapnya baca: http://theonlynelly.wordpress.com/2011/09/28/my-hijab-story/ :)

sayingimages:

Follow Saying images for more great quotes

Jadilah pemberani, jangan lemah & jangan sombong :’) #ntms

"Buta mata apabila tidak ada cahaya masuk ke retina mata kita. Tetapi buta hati apabila tidak ada ilmu masuk ke hati kita."

 

Tanpa ilmu = buta hati :’(

Hometax: Mengurus Pajak di Korea Bisa via Online dari Rumah Anda \^.^/

1. Buka http://hometax.go.kr/ di browser Internet Explorer.Pilih tab 개인, lalu 로그인(login).

2.…

View Post