i love my [un]perfect life

@theonlynelly enjoys tumblr-world as well as her wordpress, posterous, and blogspot :) | have you noticed my imperfectness? ;)
Recent Tweets @theonlynelly
Posts I Like

Alkisah fulan dan fulanah yang terperosok melakukan zina. Keduanya lalu bertaubat dan tidak melakukan komunikasi hingga dirasa siap menikah. Ketika waktu itu tiba, keluarga fulanah setuju, sebaliknya keluarga fulan tidak setuju jika fulan menikahi fulanah.

Fulan menyampaikan pada fulanah bahwa ia tidak dapat melangkah ke jenjang pernikahan jika keluarganya tidak ridha.

Fulanah pun bingung, bagaimana bisa “partner zina”-nya tega berkata seperti itu.

Ketika hal ini ditanyakan pada beberapa ustadz, semua memberi jawaban yang serupa: taubat lalu nikah. Salah seorang ustadz bahkan mengatakan, “Ketika zina kamu tidak pakai ijin keluargamu, kenapa sekarang ketika nikah (bertanggungjawab) harus pakai ijin dulu?”

~~~

Seperti di postingan sebelumnya, seneng banget baca penjelasan rinci ust. Abu Haura plus cara beliau balas komen-komen yang masuk..

Sekaligus amazed, ternyata banyak sekali pelaku pacaran yang hubungannya sudah kebablasan sampe seperti suami-istri. Ternyata banyak sekali kasus serupa dengan fulan-fulanah di atas :’(

Yang bikin makin ‘nyeri’ hati ini, ternyata memang tidak ada kewajiban bagi lelaki untuk menikahi wanita partner zina-nya. Meskipun banyak pendapat yang menyatakan bahwa pertanggungjawaban si lelaki bisa dikatakan termasuk cara taubatnya.

Berikut nukilan dari tulisan ust. Abu Haura:

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/11/17/hukum-menikah-dengan-orang-yang-pernah-berzina/

Menikahi wanita yang telah berzina/dizinahi atau menikah dengan lelaki yang pernah berzina/menzinahi hukumnya sah, tetapi makruh selama
belum bertaubat. Jika sudah bertaubat, maka pernikahan tersebut sah tanpa ada kemakruhan.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berpendapat orang yang menikahi wanita yang telah dizinainya itu seperti orang mencuri anggur, lalu membelinya. Abu Bakar malah
memandang bahwa menikahi wanita yang telah dizinai sebagai bentuk Taubat.

Sejumlah Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memfatwakan kebolehan pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang
dizinahinya, bahkan terlibat langsung dalam proses menikahkan.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Shiddiq telah menikahkan seorang lelaki dengan gadis yang direnggut keperawanannya oleh lelaki tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan, “Dari Abu Bakar As-Shiddiq tentang seorang lelaki yang memecahkan keperawanan seorang wanita, kemudian mereka mengaku, maka Abu Bakar mencambuk keduanya masing-masing seratus kali, lalu menikahkan keduanya dan mengasingkan mereka selama satu
tahun.” (HR. Baihaqi)

'Ikrimah mengumpamakan pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang dizinahinya seperti orang yang mencuri kurma, lalu setelah itu membelinya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, “Dari ‘Ikrimah beliau berkata: 'Tidak masalah, itu seperti seorang lelaki yang mencuri kurma kemudian membelinya.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Sejumlah Tabi’in besar seperti Sa’id bin Jubair, ‘Al-Qomah, dan Umar bin Abdul ‘Aziz juga berfatwa senada. Semuanya mendukung penjelasan hukum bahwa pernikahan lelaki dengan wanita yang dizinahinya adalah sah, bahkan bisa dikatakan termasuk cara taubat dari perzinahan tersebut.

Memang ada riwayat dari Ibnu Mas’ud, Aisyah, Jabir bin Zaid dan Al-Baro’ yang menunjukkan mereka berfatwa tidak bolehnya dua orang yang berzina menikah sebelum taubat.

Sedangkan Imam As-Syafi’i berpendapat sebagaimana diriwayatkan Baihaqi; As-Syafi’i berkata, “Kami dan mereka tidak berpendapat seperti ini (pendapat yang mengharamkan dua orang yang berzina menikah). (Pendapat kami adalah) mereka berdua berdosa saat berzina namun halal saat menikah dan bukan berzina lagi. Umar dan Ibnu Abbas berpendapat semakna dengan ini.” (HR. Baihaqi)

Namun keabsahan menikahi wanita yang telah berzina diikat syarat yaitu melakukan Istibro’. Istibro’ dalam hal ini adalah masa menunggu sebelum boleh melangsungkan akad nikah.
Istibro’ wanita yang hamil karena berzina dilakukan dengan durasi waktu sepanjang masa kehamilannya dan berakhir pada saat melahirkan.
Artinya, wanita hamil karena perzinaan baru boleh melangsungkan akad nikah yang syar’i setelah
bayinya lahir.

~~~

Aku mencoba cari di situs Konsultasi Syariah, jawaban dari ust. Ammi Nur Baits pun ndak jauh beda:

http://www.konsultasisyariah.com/apakah-dosa-zina-bisa-terhapus-dengan-menikah/

Untuk itu, sebagian ulama menyarankan agar orang yang melakukan zina, untuk segera menikah, dalam rangka menutupi
aib keduanya. Karena jika mereka
berpisah, akan sangat merugikan pihak wanita, karena tidak ada lelaki yang bangga memiliki istri yang pernah dinodai orang lain secara tidak halal.

Sebagai tambahan, perlu juga
memperhatikan beberapa aturan
pernikahan orang yang berzina,
sebagaimana yang dijelaskan di:
http://www.konsultasisyariah.com/
calon-istri-pernah-berzina/
http://www.konsultasisyariah.com/6-hal-
penting-tentang-hamil-di-luar-nikah/
http://www.konsultasisyariah.com/
menikah-dengan-orang-yang-pernah-
berzina/

Allahu a’lam

~~~

Dear.. ini pelajaran berharga untuk kamu. Untuk semua wanita yang membaca ini, jadikan pengalaman orang lain sebagai cermin, semoga kita terhindar dari masalah yang menimpa mereka..

Dan bagi laki-laki yang membaca tulisan ini, ingatlah bahwa hati wanita bukanlah barang yang bisa kau mainkan ketika butuh saja. Jangan dekati wanita kecuali kamu dan keluargamu sudah siap untuk menerima dia, intinya: jangan pacaran. Karena dengan pacaran, zina itu selangkah mendekati kalian. Kalau sudah terjadi zina, bukan hanya dosa yang kalian dapatkan, tapi juga rusaknya masa depan sang wanita.

Dan kalian laki-laki mesti ingat, wanita akan selalu merekam apa yang kalian katakan. Jangan memberi janji dan harapan kepada mereka yang belum halal.

Sist.. kamu yang rugi sist.. Dan akupun ikut sedih jika itu terjadi :’(

Lelaki itu bisa dengan mudah mendapatkan wanita lain sementara kamu yang telah kehilangan kehormatan merasa dirimu ‘kotor’ dan tak berharga..

Lelaki itu bisa menganggap apa yang telah terjadi diantara kalian berbua hanya sebagai kekhilafan yang harus dilupakan, sedangkan bagimu kekhilafan itu sesuatu yang harus diperbaiki kedepannya dengan pernikahan..

Lelaki itu bisa meminta kamu untuk ikhlas menerima keputusan ini sementara kamu sang korban malah mendapat tuduhan tidak mau ikhlas menerima taqdir..

Lelaki itu bisa dengan ringan meminta maaf sementara kamu bingung hal manakah yang harus dimaafkan? Mengambil keperawananmu atau menolak menikah denganmu? Keduanya sama-sama hal yang berat, bukan?! Kalau kamu tidak sanggup memaafkan, lagi-lagi dikatakan “Allah saja Maha penerima ampunan, kenapa kamu tidak?”. Hayoloh..

Trus kamu bisa apa?

Memaksa dia menikahi kamu? Boleh saja, jika kamu sudah yakin nanti dia dan keluarganya tidak akan ‘menginjak-injak’ harga dirimu ketika sudah jadi istrinya. Betapa banyak suami yang berkata “Aku terpaksa menikahi kamu”, “Siapa dulu yang maksa dinikahi?”. Wal’iyadzubillah..

Menunggu ada lelaki lain yang mau menikahi kamu? Bisa juga jadi pilihan. Banyaklah berdoa supaya Allah menganugerahkan lelaki shalih yang mau menerima masa lalumu. Memang seolah mustahil, tapi bukan berarti tidak mungkin. Aamiin..


~tulisan dari lubuk hati yang terdalam untuk muslimah dimanapun berada~

Pas blogwalking kemarin nemu tautan di atas. Akhirnya baca tiga dari beberapa judul tulisan terpopuler yang ada disana..

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/11/09/muslimah-jatuh-cinta-pada-seorang-lelaki-apa-yang-harus-dilakukan/

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/06/09/jangan-menghalangi-muslimah-menikahi-pria-pilihannya/

http://abuhauramuafa.wordpress.com/2012/11/17/hukum-menikah-dengan-orang-yang-pernah-berzina/

Seneng banget baca penjelasan rinci Ustadznya plus cara beliau balas komen-komen yang masuk..

Jadi sadar bahwa manusia hidup dengan ujiannya masing-masing, tiap individu bisa beda masalahnya dengan individu yang lain.

(Bersambung)

Setiap kali aku dapat ujian hidup, setiap kali itu pula aku bertanya pada Allah “Why me?”..

Di satu sisi, aku tahu mempertanyakannya merupakan suatu sikap seolah tidak mau ikhlas menerima taqdir Allah..

Tapi di sisi lain, aku sadar bahwa manusia hidup pasti diuji (dengan kebaikan & keburukan)..

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabut: 2)

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, …" (QS. Al-Ankabut: 3)

Emang nggak tahu diri banget kalo pas diuji dengan kebaikan, nerima-nerima aja, nggak tanya “Why me?”; eh begitu diuji dengan keburukan, pasti tanya “Why me?”..

Gimana kalo Allah jawab “Why not?!”

Tapi.. Kali ini bukan soal ikhlas atau ndak.. Entahlah, hanya hati yang bisa menjawab..


*yang masih sering nangis sendiri walau udah pernah dibilangin “Hold your tears, ok?” sementara keadaan belum berubah*

Kemarin waktu ponakan tidur, aku ada kesempatan bentar buat nengok laptop..

QaddarAllaahu entah kenapa pengen buka folder-folder lama semasa di Korea untuk dirapikan lagi..

Tetikusku berhenti di sebuah folder yang isinya file foto-foto selfie-ku yang khusus untuk dikirim ke keluarga di Indonesia kala itu sebagai pengganti rindu. Bukan untuk diunggah ke social media.

Aku amazed dengan wajah-wajahku disana. I looked happy and chubby and beautiful (oke, mungkin kata terakhir terdengar lebai). Wajahku terlihat cerah bersinar dalam foto-foto itu..

"Kok aku cantik ya? Beda sama sekarang!", batinku miris sambil menowel pipi yang mulai tirus.

Iya sih, emang aku nggak boleh stress. Baru kusadari berat badanku ternyata 42 kg, padahal kukira 45 kg. Idealnya sih 50 kg. Jauh banget ya?!

Kecewa deh tiap kali liat timbangan, bukan karena kelebihan berat badan, tapi karena malah beratku di bawah garis kemakmuran..

~another postingan edisi ga jelas blas~
In my term, i have already done what i never did before..

In my term, i have already done what i never did before..